Okay, jadi saat itu, ketika kami sibuk membuat lubang, ada anak laki-laki yang melihat kesibukan kita, dia memandang dengan serius dan penasaran. Lalu ketika kami sedang kesusahan membor tanah, anak laki-laki itu tiba-tiba datanng dan membantu kami untuk membor. Betapa terharunya saya melihat kepekaan sosial dalam diri anak kecil itu. Lalu kami pun menyemangati diri kami dan anak itu. Setelah selesai, saya pun mencari dedaunan untuk ditaruh di dalam lubang. Anak itu langsung mengambil daun-daun yang dia lihat dan memberinya pada saya. Saya pun merasa tak enak ketika anak itu ikut bersusah payah dalam kegiatan kami. Tapi anak itu terlihat senang bisa membantu, jadi saya biarkan dia untuk membantu kami, toh bagus juga untuk si anak dalam pengembangan karakter usia dini.
Nah, tidak hanya itu. Kami juga mengalami kesulitan, yaitu masalah transport. Kelompok kami hannya memiliki dua sepeda motor. Kelompok saya tinggal di Alam Sutera semuanya, kecuali saya tinggal di Daan Mogot, lebih tepatnya di Perumahan Tangerang Indah (dekat Kali Cisadane). Jadi tiap kami datang ke Sitanala kami selalu menumpang pada kelompok yang membawa mobil, itupun kalau masih muat. Saya sebagai ketua merasa tidak enak pada kelompok saya dan kelompok lain. Saya takut mereka berpikir jelek tentang tentang kelompok saya karena merepotkan kelompok lain. Tapi apa boleh buat...
So, sekian suka duka yang bisa saya ceritakan ke kalian. Sampai bertemu di post selanjutnya...



















